Kasus Ivan Sugianto, pebisnis asal Surabaya museochicano.com sebagai sorotan public karena perlakuan gertakan pada seorang pelajar SMA dan sangkaan keterkaitannya dalam judi bola, menggambarkan dinamika sosial yang kompleks. Kejadian ini bukan hanya memvisualisasikan angkuhsi pribadi, tapi juga munculkan pertanyaan serius mengenai rekanan kuasa dan efektifitas penegakan hukum di Indonesia. Peristiwa ini berkaitan untuk diulas dalam kerangka beberapa hari besar yang mengusung topik keadilan dan hak asasi manusia.
Ivan Sugianto diperhitungkan salah gunakan status sosial dan ekonominya untuk memaksa kehendak pada pelajar yang diperhitungkan menghina anaknya. Di video yang trending, Ivan memaksakan pelajar itu untuk bersujud dan menyalak di muka umum—sebuah perlakuan yang oleh Komisi Pelindungan Anak Indonesia (KPAI) disebutkan merendahkan martabat anak.
Kejadian ini menggambarkan rekanan kuasa yang berbeda. Dalam warga yang condong menyembah status sosial, kekuasaan kerap kali dipakai untuk menekan faksi yang dipandang kurang kuat. Rekanan seperti ini bukan hanya melukai beberapa nilai keadilan, tapi juga jadi memperburuk kesenjangan sosial. Ivan, yang dikenali mempunyai jalinan dengan beberapa figure punya pengaruh, seolah merasa ada "di atas hukum."
Kasus ini makin mengundang perhatian public saat Pusat Laporan dan Analitis Transaksi bisnis Keuangan (PPATK) membekukan rekening Ivan berkaitan sangkaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) lewat taruhan online. Tetapi, sampai sekarang, aparatur penegak hukum kelihatan lambat dalam tindak lanjuti penemuan ini.